Wednesday, 25 July 2012

CC 202

CC20245 ketika akan dikirimkan dari pabrik General Motor
di Kanada ke pelabuhan untuk dikapalkan ke Indonesia


CC202 merupakan generasi lokomotif 2 tak terberat yang dimiliki oleh PT KAI setelah CC200. Sekilas dari kejauhan lokomotif ini mirip dengan lokomotif dengan CC201, namun di lokomotif ini terdapat bagian atap mirip topi di shorthoodnya dan bodi yang lebih panjang. Lokomotif ini dipesan oleh PJKA dari pabriknya General Motor Kanada khusus untuk dinasan angkutan batubara. Hingga tahun 2008, PT KAI memiliki CC202 sebanyak 48 unit yang keseluruhannya adalah dipo induk Tanjung Karang (TNK).

Loko CC202 ini satu-satunya generasi lokomotif yang hanya diperbolehkan berjalan di lintasan jalan rel Sumatera Selatan, karena disana kekuatan tekanan gandarnya telah mencapai 18 ton, setara dengan beban satu gandar roda CC202 yang mencapai 18 ton. Tujuan dari beban gandar 18 ton dan panjang lokomotif lebih dari rata-rata di kelasnya, adalah untuk menunjang jumlah gerbong KKBW batubara yang mencapai 45  gerbong lebih dalam 1 rangkaian KA. Kekuatan tarikan 1 unit CC202 itu sendiri sebenarnya mampu menarik hingga 40 gerbong, namun untuk efisiensi operasional lokomotif, setiap hari KA yang dikenal dengan nama Babaranjang ditarik oleh 2 lokomotif CC202 secara Multiple Unit (2 loko 1 kendali) dan posisi lokomotif saling membelakangi agar tidak perlu memutar lokomotif. Selain di divre 3 tidak memiliki turntable yang sesuai untuk CC202 (bahkan untuk lokomotif lain juga), juga CC202 hanya memiliki 1 meja kendali yang mengarah ke shorthood.

Di divre 3 memang ramai sekali lalulintas KA Babaranjang perharinya, baik isi maupun kosong. Sekali tarik panjang rangkaian mencapai 48 gerbong atau sekitar 1 kilometer. Tidak heran emplasemen stasiun disana memiliki spoor belok yang panjang-panjang. Setelah kehadiran CC204 di divre 3, CC202 tidak lagi mendominasi dinasan Babaranjang. Namun itu tidaklah lama, karena beberapa minggu CC204 berdinas Babaranjang dengan porsi rangkaian yang sama, suatu hari CC204 double traction mengalami derunning ketika akan berjalan lagi setelah mengalami tahanan sinyal masuk, sialnya posisi berhenti saat itu berada di kemiringan (tanjakan) sehingga tidak mampu untuk berjalan kembali. Babaranjang CC204 yang naas itu mampu melanjutkan perjalanan kembali setelah dilokpen oleh DT CC202 Babaranjang kosongan didepannya. Sekarang pun lok CC204 disana masih berdinas batubara, namun bukan lagi Babaranjang dan jumlah rangkaiannya lebih sedikit dari Babaranjang.

Spesifikasi teknis CC202
Identitas Produksi
Kode model loko___: -
Desain angkutan___: freight (barang batubara)
Dimensi
Lebar sepur_______: 1067 mm
Panjang bodi______: 17678 mm
Jarak coupler_____: 18942 mm
Lebar bodi_______: - mm
Tinggi bodi_______: 3683 mm
Jarak gandar______: 3632 mm
Jarak pivot_______: 11404 mm
Diameter roda traksi: 1016 mm
Diameter roda idle__: - mm
Tinggi coupler_____: 759 mm
Berat kosong______: - ton
Berat siap________: 108 ton
Berat Adhesi______: 108 ton
Mesin dan converter
Tipe mesin________: GM 645 E, 16
Jenis____________: 2 tak
Daya output_______: 2250
Daya ke converter__: 2000 hp
Jumlah traksi motor_: 6
Tipe traksi motor___: D-29, AC
Rasio roda gigi_____: 63:14
Tipe converter_____: AR 6 QAD-D14, AC
Kemampuan
Kecepatan maksimum: 80 kmh
Adhesi maksimum___:22680 Kgf
Kecepatan kontinu__: 14 kmh
Radius terkecil_____: 80 m
Kapasitas
Bahan bakar______: 3800 lt, HSD
Pelumas mesin____: 920 lt
Radiator_________: 832 lt
Pasir____________: 340 lt
Sistem rem
Tipe sistem rem___: udara tekan, dinamik, parkir
Tipe kompresor___: WBO, Gardner Denver


Referensi: "LOKOMOTIF DAN KERETA REL DIESEL DI INDONESIA edisi 2 (Ir. Hartono AS, MM)"

Friday, 20 July 2012

Alokasi & Tahun Rakit BB 200

ID LokoNomor AlayAlokasiTahun Rakitan
BB20001(-)Dipo Induk 1958
BB20002(-)Dipo Induk 1958
BB20003(-)Dipo Induk 1958
BB20004(-)Dipo Induk 1958
BB20005(-)Dipo Induk 1958
BB20006(-)Dipo Induk 1958
BB20007(-)Dipo Induk 1958
BB20008(-)Dipo Induk 1958
BB20009(-)Dipo Induk 1958
BB20010(-)Dipo Induk 1958
BB20011(-)Dipo Induk 1958
BB20012(-)Dipo Induk 1958
BB20013(-)Dipo Induk 1958
BB20014(-)Dipo Induk 1958
BB20015(-)Dipo Induk 1958
BB20016(-)Dipo Induk 1958
BB20017(-)Dipo Induk 1958
BB20018(-)Dipo Induk 1958
BB20019(-)Dipo Induk 1958
BB20020(-)Dipo Induk 1958
BB20021(-)Dipo Induk 1958
BB20022(-)Dipo Induk 1958
BB20023(-)Dipo Induk 1958
BB20024(-)Dipo Induk 1958
BB20025(-)Dipo Induk 1958
BB20026(-)Dipo Induk 1958
BB20027(-)Dipo Induk 1958
BB20028(-)Dipo Induk 1958
BB20029(-)Dipo Induk 1958
BB20030(-)Dipo Induk 1958
BB20031(-)Dipo Induk 1958
BB20032(-)Dipo Induk 1958
BB20033(-)Dipo Induk 1958
BB20034(-)Dipo Induk 1958
BB20035(-)Dipo Induk 1958

Karena informasi yang didapat kurang memadai, silahkan tambahkan informasi mengenai alokasi terakhir dari daftar alokasi lokomotif BB200 pada kolom komentar di bawah ini.

Wednesday, 18 July 2012

CC201

CC20122 ketika melayani dinasan KLB railfans
Belanda dari Malang
CC201 merupakan lokomotif genereasi kedua setelah CC200 yang telah ada sebelumnya. Dibuat pertama pada tahun 1977 dengan jumlah 28 unit, lokomotif CC201 menjadi tipe lokomotif diesel elektrik tertua kedua yang dimiliki PT KAI. Seiring perkembangan teknologi lokomotif dan perkembangan era teknologi global yang mengacu ke teknologi komputerisasi, pada tahun 2003 sebanyak 7 unit CC201 original dimodifikasi menjadi CC204 dengan menanamkan microcomputer Sirius BrightStar (R).

Menurut sejarah pembuatannya, CC201 berasal dari 2 jenis loko yang berbeda, namun hampir sama, yaitu CC201 yang "asli" dan CC201 modifikasi dari tipe BB203 (spesifikasi fisik, mesin, dan pabriknya sama, hanya beda sistem penggeraknya saja yang berbeda). CC201 hasil modifikasi BB203 dapat diketahui dari plat spesifikasi yang ada di sebelah kanan kabin.


Spesifikasi teknis BB202

Identitas Produksi
Kode model loko___: GE U18C
Desain angkutan___: universal (barang dan penumpang)
Dimensi
Lebar sepur_______: 1067 mm
Panjang bodi______: 14134 mm
Jarak coupler_____: 15214 mm
Lebar bodi_______: 2642 mm
Tinggi bodi_______: 3636 mm
Jarak gandar______: 3505 mm
Jarak pivot_______: 7680 mm
Diameter roda traksi: 914 mm
Diameter roda idle__: 914 mm
Tinggi coupler_____: 770 mm
Berat kosong______: 78 ton
Berat siap________: 84 ton
Berat Adhesi______: 84 ton
Mesin dan converter
Tipe mesin________: GE 7FDL8
Jenis____________: 4 tak, turbocharger
Daya output_______: 1950 hp
Daya ke converter__: 1825 hp
Jumlah traksi motor_: 6
Tipe traksi motor___: 5GE761A19
Rasio roda gigi_____: 93:18
Tipe converter_____: 5GTA11, self blown
Kemampuan
Kecepatan maksimum: 120 kmh
Adhesi maksimum___: 17640 Kgf
Kecepatan kontinu__: 24 kmh
Radius terkecil_____: 56,7 m
Kapasitas
Bahan bakar______: 3028 lt, HSD
Pelumas mesin____: 984 lt
Radiator_________: 682 lt
Pasir____________: 510 lt
Sistem rem
Tipe sistem rem___: udara tekan, dinamik, parkir
Tipe kompresor___: WBO, Gardner Denver




Referensi: "LOKOMOTIF DAN KERETA REL DIESEL DI INDONESIA edisi 2 (Ir. Hartono AS, MM)"

Saturday, 14 July 2012

Jalur Mati KA: Denah Tulungagung - Trenggalek

Denah jalur mati Tulungagung-Trenggalek tahun 1930
Jaman kolonialisme di Indonesia, Belanda banyak sekali membangun jaringan rel kereta api di Pulau Jawa, Madura, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Tercatat dalam sejarah pembangunan jalur rel pada masa Netherland-Indische, hingga tahun 1939 yang diperkirakan menjadi tahun terakhir Belanda membangun jalur rel, total panjang keseluruhan jalan rel di Indonesia mencapai 6811 Km. Pembangunannya dilaksanakan oleh beberapa perusahaan pemerintah dan swasta Belanda, seperti Staat Spoorwegen dan Netherland Indische Spoorwegemaatschappij yang merupakan perusahaan KA pemerintah kolonial, juga seperti Oost Java Spoorwegemaatschappij, Soerabaja Stoomtram Maatschappij, dan masih banyak lagi sebagai perusahaan swasta.

Banyak jaringan jalur rel KA yang dibangun pada saat itu, baik jalur trem, jalur KA utama, maupun jalur KA percabangan (jalur simpang). Namun dari tahun ke tahun, jalur-jalur KA tidak semakin bertambah, malah semakin berkurang panjangnya. Jalur-jalur yang mati, banyak diantaranya karena kurangnya okupansi angkutan, kalah persaingan dengan moda angkutan lain, atau sebab lain. Jalur KA yang mati, ada yang mati setelah Indonesia merdeka, bahkan sebelum Indonesia merdeka, atau masih dijajah juga ada yang terpaksa dimatikan. Banyak jalur rel yang mati atau dinonaktifkan untuk sementara, bahkan ada yang dibongkar paksa oleh Jepang yang menjajah pada tahun 1942-1945, untuk diangkut dan dibangun kembali di Burma. Salah satu lintas jalur KA yang terpaksa dimatikan sebelum Indonesia merdeka adalah jalur mati Tulungagung-Trenggalek-Tugu.

Di lintas dulunya terdapat beberapa stasiun: (
1 ST Tulungagung Ta 0.000
- Jepun Jpn 1.143
- Beji Bej 2.747
- Boyolangu Byl 6.535
- Pojok Pjk 8.913
- Pelem Pel 11.317
2 ST Campurdarat Cpt 13.670 (SDN 2 Campurdarat)
- Duwet Dwt 16.840
- Sokoanyar Skr 19.320
3 ST Bandung Bnd 20.620
- Bandungpasar Bndp 21.285
- Bulus Bls 24.191
- Kedunglurah Kdl 27.780
- Bendo Bdo 31.212
- Ngetal Ntl 33.415
- Siwalan Swn 36.820
4 ST Trenggalek Trg 38.762
- Kedungsangkal Kgs 40.990
- Nglongsor Ngs 43.720
- Winong Wng 46.769
5 ST Tugu Tgu 48.375


Dalam posting ini, saya akan membahas denah penelusuran jalur Tulungagung-Trenggalek-Tugu, sebelum saya melakukan penelusuran ke lapangan untuk mengetahui jalur KA di kota sendiri yang selama ini belum terlaksana. Bagi teman-teman railfans yang ingin menelusuri jalur ini, semoga posting saya menjadi referensi yang bermanfaat.

NB:
- Selalu perhatikan garis putih putus-putus sebagai penanda bekas jalur KA
- Artikel ini sedang dalam pengembangan, karena saya sendiri belum menelusuri ke lokasi


Gbr 1, awal bekas percabangan dari stasiun
Tulungagung
Lintas Tulungagung-Trenggalek merupakan jalur cabang yang dibuka dalam 2 tahap pembangunan, yaitu 15 Juli 1921 (Tulungagung-Boyolangu-Campurdarat) sepanjang 14 Km, dan 1 Juli 1922 (Campurdarat-Bandung-Kedunglurah-Ngetal-Trenggalek-Tugu) sepanjang 25 Km. Pada (Gbr 1), awal percabangannya dari jalur 1 stasiun TA yang berlokasi di koordinat 8°3'47.0034''S 111°54'16.7166''E. Menurut keterangan yang diyakini hingga sekarang, jalur 1 yang dulu kini telah menjadi peron tunggu, dan jalur 2-nya telah menjadi jalur 1 yang sekarang. Dari jalur 1 tersebut ke arah selatan, bekas-bekas yang masih terlihat dengan jelas adalah jembatan kecil yang masih utuh dan menjadi jalan kampung, 150 m selatan stasiun, railbed yang telah menjadi jalan kampung hingga ke pertokoan Plasa Nirwana, dan sepasang rel yang lumayan masih terlihat di ujung gang yang terletak di dekat plasa nirwana, di titik koordinat 8°4'24.0312''S 111°54'19.1315''E. Dahulu sebelum mengerti tentang jalur ini, sempat ada pemahaman bahwa dahulu kompleks Plasa Nirwana yang bagian belakangnya sudah menjadi hotel, merupakan dipo kereta dari stasiun besar Tulungagung pada masa itu.

Gbr 2, denah eks jalur Tulungagung-Trenggalek dekat lokasi
pasar burung Beji dan dekat SMAN 1 Boyolangu
Setelah melewati kompleks pertokoan Plasa Nirwana, bekas jalur TA-TLK ini menyatu dengan jalan raya yang sekarang. Letaknya di tikungan jalan raya dekat pasar burung Beji pada koordinat 8°4'50.9527''S 111°54'10.9433''E, sedangkan relnya tetap lurus. Dari situ lah bekas jalur relnya terus berada disamping jalan raya hingga sekitar 500 m sebelum pasar tradisional Beji.

Gbr 3, denah melewati dusun Talapan

Gbr 4, denah bekas jalur melewati sungai di Boyolangu
Sampai di sebuah sungai yang lumayan besar, kita akan menemui sebuah dam gerak di sebelah jembatan jalan raya Boyolangu (Gbr 4) di koordinat 8°6'37.2568''S 111°53'43.4432''E, dimana dam tersebut menggunakan pondasi bekas jembatan KA. Dan rel yang ada, diperkirakan menggunakan rel bekas jalur tersebut, atau mungkin menggunakan rel lori tebu yang memang juga ada disana, berdampingan dengan jalur KA.

Gbr 5, denah jalur sekitar Pasar Boyolangu
Mendekati pasar Boyolangu (Gbr 5), bekas jalur rel bergeser agak ke tepi (merapat ke tengah pasar), diperkirakan letak bekas stasiun Boyolongu terletak di sekitar polsek Boyolangu yang terletak di 100 m selatan pasar. Koordinat lokasinya 8°7'11.5172''S 111°53'39.1171''E. Bahkan bisa jadi letak bekas stasiun Boyolangu dulu terletak di sekitar pasar itu sendiri. Mulai dari sana, bila kita mengadakan penelusuran, kita harus jeli melihat tanda-tandanya, atau kalo perlu kita tanyakan ke warga sekitar, tentu orang yang ditanyai sudah sangat tua dan tentu sudah sangat sulit menemui orang yang tepat karena jalur Tulungagung-Trenggalek sudah mati sejak lebih dari 75 tahun yang lalu.

Gbr 6, denah sekitar lapangan Pojok

Gbr 7, denah bekas jalur dekat area sawah bekas bakal lanud
ketika masa pemerintahan Soeharto

Gbr 8, denah bekas jalur sekitar pasar Campurdarat
Mendekati pasar Campurdarat (Gbr 8), kita juga bisa menemukan bekas stasiun Campurdarat disana. Menurut referensi yang saya peroleh dari sebuah website forum railfans, letak bekas stasiunnya terletak di SDN 2 Campurdarat yang sekarang. Bahkan saya pernah melihat gambar sebuah menara air stasiun Campurdarat yang masih berdiri hingga kini. Dari area Campurdarat, bekas jalur rel masih berada di samping jalan raya, namun agak menjauh 40 m ke selatan. Untuk menjangkau dan menelusuri jalan kecil yang diduga bekas railbed jalur KA, dari arah Boyolangu, setelah puskesmas Campurdarat ada jalan masuk ke kiri, sekitar 30 m dari situ merupakan titik 8°9'44.748''S 111°51'33.0559''E yang diduga bekas railbed jalur KA. Kembali ke jalan raya, sebelah barat pasa Campurdarat kita akan menemui jembatan sungai yang agak besar, disampingnya terdapa jalan setapak menuju titik 8°10'0.2705''S 111°50'55.5522''E. Disana mungkin kita bisa menemukan petunjuk. Kembali ke jalan raya, ke arah barat hingga masuk wilayah Bandung (bukan Bandung Jawa Barat loh..).

Gbr 9, denah bekas jalur petak Campurdarat-Bandung

Gbr 10, denah bekas jalur petak Campurdarat-Bandung

Gbr 11, denah bekas jalur petak Campurdarat-Bandung

Gbr 12, denah bekas jalur sekitar pasar Bandung
Sekitar 1 Km sebelum pasar Bandung, rel menikung ke utara, memotong jalan raya ke arah Durenan di titik 8°10'13.7662''S 111°47'38.9569''E, +- 300 m sebelah barat SDN 1 Sambitan. Di lokasi itu kita mungkin kita tidak banyak menemukan petunjuk. Namun ada lokasi pertigaan di titik koordinat 8°10'9.0257''S 111°47'14.006''E yang dapat kita jangkau melalui pertigaan kedua ke kanan yang terhitung dari SDN 1 Sambitan. Disana ada jalan kecil yang diduga bekas railbed KA, menuju ke arah utara. melalui jalan tersebut kita juga bisa menuju jalan Bandung-Durenan. Kalau dari pasar Bandung, belok ke utara di perempatan tepat di baratnya pasar (Gbr 12). Jika mengendarai kendaraan bermotor, berjalanlah pelan saja, sebab sekitar 750 m dari perempatan pasar Bandung bekas jalur relnya memotong jalan di titik 8°9'48.4949''S 111°47'6.7448''E, namun kita tidak bisa banyak berharap dilokasi tersebut.

Gbr 13, denah bekas jalur  petak Bandung-Durenan

Gbr 14, denah bekas jalur petak Bandung-Durenan

Gbr 15, denah bekas jalur petak Bandung-Durenan
Pada Gbr 15, ada lokasi yang menarik untuk ditelusuri, yaitu SDN 2 Ngadisuko yang berlokasi di titik 8°8'8.8195''S 111°46'51.411''E, karena di lokasi tersebut merupakan area sekolah yang bertempat di bekas railbed jalur KA (menurut wikimapia.com), mungkin saja kita bisa menemukan petunjuk di sana. Ada juga jalan menuju ke areal persawahan, letaknya tidak jauh dari SDN 2 Ngadisuko, berada di titik 8°8'6.2578''S 111°46'54.8098''E, kita bisa masuk ke jalan arah ke utara yang ada pada titik koordinat tersebut, sejauh 450 m. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk disana. Setelah menjangkau lokasi tersebut, kita kembali ke jalan Bandung-Durenan.

Gbr 16, denah bekas jalur sekitar Durenan
Dari jalan Bandung-Durenan terus ke utara kita akan sampai di jalan raya Trenggalek-Tulungagung kemudian kita belok kiri. Sejauh 1 Km dari pertigaan arah dari jalan Bandung-Durenan tadi, terdapat area persawahan luas di kiri (selatan) jalan. Jika kita kesana saat musim padi, bahkan lebih beruntung bila padinya belum tinggi, mungkin kita bisa melihat bekas railbednya yang tampak memotong diagonal areal persawahan tersebut. Dari situ bekas jalur KA menikung ke barat sejajar dengan jalan. Mungkin kita bisa menelusuri sebuah lapangan, tidak jauh dari persawahan tadi. Lapangan tersebut berada di titik 8°6'49.6325''S 111°46'28.9319''E, setelah perempatan kecil Kedunglurah.

Gbr 17, denah bekas jalur sekitar SDN 5 Bendorejo
Bergerak lebih ke barat, kita akan menjumpai SPBU Bendorejo di kiri jalan. Sebelah barat SPBU ada area persawahan, kemungkinan kita bisa menjumpai petunjuk di sekitar sana. (Gbr 17) Setelah persawahan ada SDN 5 Bendorejo. Agak ke barat kita akan menjumpai jembatan besar, di titik 8°6'0.3056''S 111°45'21.7652''E. Mungkin disana kita tidak menjumpai petunjuk disana.

Gbr 18, denah bekas jalur sekitar pasar Bendo
Sekitar 500 m dari jembatan tadi, kita akan sampai di pasar Bendo (Gbr 18). Mungkin tidak banyak petunjuk disana, tapi tak apalah kita telusuri sejenak, barangkali kita menemukan bekas stasiun disana. Namun jangan tergesa-gesa meninggalkan area pasar Bendo, karena tidak jauh dari perempatan pasar Bendo, ke arah barat kita akan menemukan lagi jembatan yang menurut keterangan di wikimapia.org adalah bekas jembatan KA Bendo, jembatan tersebut berada di titik 8°5'42.5245''S 111°44'42.5234''E, berada di sebelah kiri jembatan jalan raya.

Gbr 19, denah bekas jalur sekitar SMKN 1 Pogalan
Trenggalek
Di desa Ngetal, bekas jalur KA memotong jalan lagi ke utara jalan, tepat di tikungan jalan dekat SDN 1 Ngetal/SMKN 1 Pogalan. Sekitar 400 m setelah SMKN 1 Pogalan, rel berbelok ke arah barat laut, tepat di sebelah pertigaan besar Ngetal (pertigaannya arah ke selatan, Gbr 19). Namun kita bisa menelusuri melalui pertigaan ke utara setelah pertigaan Ngetal tadi. Pertigaan belok kanan, kemudian pertigaan lagi belok kiri. Kita bisa menelusuri jejak-jejaknya yang mengarah serong dari jalan setempat, di titik koordinat 8°5'26.5405''S 111°43'31.7258''E

Gbr 20, denah bekas jalur barat laut SMKN 1 Pogalan
Trenggalek

Gbr 21, denah bekas jalur dekat kota Trenggalek
Mendekati pusat kota Trenggalek, lokasi railbed bekas jalur KA akan semakin mudah untuk kita telusuri. Berdasarkan map wikimapia.org, terdapat keterangan yang menyebutkan ada bekas pondasi jembatan KA di titik koordinat 8°3'41.8756''S 111°42'57.7757''E (Gbr 21) dan ada keterangan lagi di titik 8°3'23.7103''S 111°42'24.3659''E, juga tidak jauh dari sana ada sungai di 8°3'26.1961''S 111°42'8.3369''E (Gbr 22)yang tepat diatas jembatan. Sayangnya bukan jembatan KA, dari pencitraan GoogleMaps, di titik tersebut adalah jembatan jalan yang tidak searah dengan bekas jalan rel, dekat dengan RSUD kota Trenggalek.

Gbr 22, denah bekas jalur dekat RSUD Trenggalek

Gbr 23, denah bekas jalur dekat SMAN 1 Karangan
dan Kodim Karangan Trenggalek
Lanjut ke arah Tugu, bekas jalan rel berada di selatan jalan raya Trenggalek-Ponorogo. Tapi tidak begitu jauh bekas jalurnya memotong jalan raya, (Gbr 23) menurut wikimapia.org jalur tersebut memotong jalan di titik 8°3'20.8426''S 111°41'26.3144''E, berdekatan dengan markas Kodim Trenggalek, juga tidak jauh dengan SMAN 1 Karangan Trenggalek. Namun sepertinya tidak ada bekasnya lagi di lokasi, bila kita melihatnya langsung kesana.

Gbr 24, denah bekas rel Trenggalek-Tugu

Gbr 25, denah bekas jalan rel petak eks-Stasiun Tugu
dengan eks-Stasiun Kota Trenggalek
Setelah  melewati area tersebut, bekas jalur rel menjauh dari jalan raya, (Gbr 24, Gbr 25) hingga ke lokasi yang berada pada titik 8°1'42.9762''S 111°38'10.8395''E, dimana tempat yang bernama SMPN 1 Tugu dan balai desa Dermosari merupakan bekas area akhir atau ujung dari lintas cabang jalur kereta api Tulungagung-Trenggalek, yaitu stasiun Tugu. (Gbr 26)


Gbr 26, denah bekas Stasiun "terminus" Tugu
Ujung dari lintas jalur mati Tulungagung-Trenggalek

Baca juga..
Jalur Mati KA: Tracking Tulungagung-Trenggalek Part 1
Jalur Mati KA: Tracking Tulungagung-Trenggalek Part 2

dYT production: Pengaruh Rekaman Video terhadap Shutter Count (SC)...

dYT production: Pengaruh Rekaman Video terhadap Shutter Count (SC)...: Beberapa waktu yang lalu ada yang bertanya " apa nggak ngaruh sama SC nya ya mas kalo pake DLSR  ?????????? (untuk merekam video maksudnya)....