Monday, 4 February 2013

Jalur Mati KA: Tracking Tulungagung-Trenggalek Part 1

Alhamdulillah, angan-angan treking jalur mati sudah tercapai. Apalagi jalur mati itu ada di daerah sendiri, tak jauh lah dari rumah. Berbekal nekat dari niat yang udah bulat, berangkatlah saya treking jalur Tulungagung-Trenggalek-Tugu.
Awal Mula Percabangan ke Trenggalek
Sebelumnya mau ajak teman, tapi akhirnya berangkat juga sendirian dengan pertimbangan bila mengajak banyak temen nanti diperjalanan disangka ada apa-apa oleh warga sekitar. Untunglah tak turun hujan, meski mendung membayang-bayang.


Hari itu Senin, 23 Juli 2012, memang dari pagi saya masih tertidur dengan sejahteranya seolah tak ada yang mampu membuatku terjaga.
Jembatan Besi Satu-satunya di
Jalur Mati Tulungagung-Trenggalek
Maklum lah, hari-hari puasa Ramadhan menjadikan tidur lebih nyenyak dari hari biasanya. Menjelang tengah hari saya terbangun, lekas aku mandi (maklum beberapa minggu belakangan hawa disini sampai ke tempat yang biasanya panas pun mendadak dingin) lalu solat dhuhur. Entah dari mana ada sebuah energi yang menggerakkan tekad, packingperlengkapan dan berangkat trekking.
Trekking diawali dari emplasemen Stasiun Tulungagung, kangen sama stasiun Tulungagung, sempatkan sebentar mampir kesana sambil hunting Dhoho. Sayang banget gak bisa masuk lebih jauh ke peron, lingkungannya sudah demikian ketat untuk meminimalisir sepeda motor masuk emplasemen, jadi, ya, hanya bisa sampai di depan kantor distrik jalan rel. Dari stasiun, masuk gang di sebelah PJL 248, antara pagar dan warung soto.
Jalan Perkampungan Selatan Stasiun
Perempatan Nirwana Plasa
Gang itulah di masa hampir seabad yang lalu merupakan railbaan jalur mati Tulungagung-Trenggalek. Lurus ke selatan sepanjang hampir 1km railbaan ini menjadi jalan kampung, dan sebagian besar sudah lama diaspal. Gang tersebut tembus hingga jalan raya di depan pertokoan Nirwana Plasa. Tidak jauh dari pos PJL 248 tadi, 100m ke selatan terdapat bekas jembatan KA yang terbuat dari besi. Jembatan tersebut merupakan satu-satunya rangka jembatan besi yang ada di jalur mati ini. Bila kita naik KA dari atau ke Blitar, bila melihat ke barat pada saat menikung akan masuk stasiun Tulungagung, pasti akan terlihat jembatan besi berwarna merah keoranyean yang melintang diatas sungai kecil.
Jalan Bekas Railbaan di Belakang Plasa Nirwana
Rel yang Nampak di Pertigaan
Belakang Nirwana Plasa
Jembatan yang menjadi saksi bisu bagi sebagian orang di Kota Tulungagung yang mengerti bahwa dulu sebelum Indonesia merdeka terdapat jalur KA menuju Trenggalek, hingga kini masih berfungsi sebagai jembatan penyeberangan warga. Akan tetapi, mungkin hanya inilah satu-satunya aset PT KAI yang berada di jalur mati Tulungagung-Trenggalek, sedangkan yang seterusnya hingga akhir rute, bukan lagi milik PT KAI.
Pertigaan Belakang Nirwana Plasa
Itu karena jalur ini sudah mati atau nonaktif semenjak Indonesia belum merdeka, atau kala itu jalur KA wilayah Tulungagung hingga Trenggalek masih milik Staats Spoorweagen (SS), sehingga seluruh aset perusahaan KA maupun TREM milik pemerintah Belanda maupun swasta Belanda yang diakuisisi setelah Indonesia merdeka hanya jalur KA/trem yang kala itu masih aktif dan beroperasi.

Back to topic.
Menyusuri railbaan awal rute, dari stasiun ke selatan saya melewati jalan perkampungan warga. Jalan tersebut sudah beraspal dan 'bermuara' di perempatan timur pertokoan Nirwana Plasa.Di perempatan tersebut, saya menyeberang ke selatan, masuk lagi di gang yang agak membelok (nampak pada foto). Sebenarnya di awal gang yang berada di selatan jalan raya itu, terdapat sepotong rel yang terpendam cor-coran di tepi jalan, juga terdapat sebatang rel yang berdiri di dekatnya. Namun saya lupa mengambil gambarnya.
Lanjutkan perjalanan, saya masuk ke selatan gang, kira-kira sejauh 150m hingga mentog di pertigaan (sebenarnya itu sebuah perempatan, namun jalan yang ke selatan merupakan jalan kecil, yang saya tidak tahu ada tembusnya atau tidak, jadi saya anggap pertigaan saja).
Tikungan dekat Pasar Burung Beji
Jalan di Depan SMAN 1 Boyolangu.
Bekas Railbaan
Berada di Kiri Jalan
Di pertigaan tersebut saya pernah menemukan 2-4 batang rel yang terpendam aspal, saya menduga rel tersebut bekas simpang wesel. Sayangnya pada saat penelusuran saya kali ini, rel yang nampak hanya 1 batang saja. Simpang yang sebelah kiri merupakan jalur utama ke Boyolangu hingga Trenggalek, sedangkan yang sebelah kanan saya tidak tahu mengarah kemana. Tapi sebuah informasi di dunia maya, yang saya lupa sumbernya, dulu plasa Nirwana merupakan kompleks pabrik minyak. Entah benar atau tidak, hanya sejarah yang mengetahuinya.

Dulu saya juga pernah menemukan sebatang bantalan besi yang dijadikan tempat duduk di dekat pos ronda yang ada dipertigaan itu, tapi saat penelusuran ini, saya tidak mendapatinya lagi. Di pertigaan tersebut, saya belok kanan ke arah barat menuju pertigaan jalan raya dari perempatan tamanan ke selatan menuju Boyolangu, Campurdarat, dan daerah-daerah lainnya. Saya belok kiri ke arah selatan. Beberapa ratus meter, jalan sedikit menikung ke barat. Tikungan yang berada dekat dengan Pasar Burung Bejiitu, menurut garis rel yang ada di www.wikimapia.org merupakan awal sambungan jalur tadi yang berdampingan dengan jalan raya Boyolangu.
Mulai dari sini, dulu jalan rel berdampingan dengan jalan raya hingga masuk kompleks eks-emplasemen Stasiun Campurdarat.
Pondasi Jembatan setelah
Perbatasan Kota Tulungagung
Sepanjang perjalanan hingga pasar Boyolangu, saya sempat menemukan beberapa pondisi jembatan ukuran sedang dan kecil. Pondasi-pondasi kecil yang terlihat mirip sebuah batu atau tugu, tidak ada bekas tanah railbaan yang lain, yang masih bisa ditemukan. Bahkan hingga akhir penelusuran saya hampir tidak menemukan tanah bekas railbaan yang utuh, yang banyak ditemukan hanya beberapa bekas pondasi jembatan kecil saja, dan satu lokasi pondasi jembatan besar yang berada di pinggiran kabupaten Trenggalek.
Benar atau Tidak Bekas Reruntuhan
Jembatan Itu Dulu Bekas
Pondasi Jembatan KA
Kuat dugaan dulu railbaan jalur mati di petak Tulungagung-Boyolangu berbentuk setengah bukit, jadi posisinya lebih tinggi dari jalan umum. Namun, sekarang gundukan tanah bekas railbaan sudah tidak ada lagi, mungkin digali oleh penduduk dan dijadikan pondasi rumah. Yang tersisa hanya sebuah bangunan pondasi jembatannya saja. Untung pondasi-pondasi yang ada luput dari peradaban yang semakin maju, sehingga bukti sejarah masih bisa disaksikan. Beberapa pondasi jembatan ada yang nampak jelas terlihat dari jalan, ada yang mungkin tersembunyi dibalik rerumputan, dan ada satu yang tersembunyi dibalik bangunan pos ronda di pertigaan jalan.
Pondasi Jembatan yang
Tersembunyi di balik Pos Ronda
Satu ini yang nyaris tidak terlihat bahwa dibalik pos ronda yang ada disebelah rumah orang, terdapat sebuah pondasi jembatan yang lumayan besar ukurannya. Selama perjalanan, untuk menemukan bekas pondasi jembatan, saya banyak mengemudi dengan perlahan, melihat pinggir jalan, persimpangan, dan kali-kali kecil. Barangkali menemukan bekas-bekas jalur KA.
Bekas Pondasi Jembatan di
Tengah Sawah Kecil
Sebelum Dam Boyolangu

Pondasi Jembatan di Sungai Irigasi
Perjalanan saya terhenti sejenak di Pasar Boyolangu. Saya teringat, dulu teman saya pernah mengatakan bahwa di sekitar sini dulu pernah terdapat bekas stasiun atau halte Boyolangu, katanya sih Polsek Boyolangu yang letaknya tak jauh di selatan pasar Boyolangu itu dulunya merupakan bekas stasiun. Tapi setelah saya amati, saya kurang yakin karena tidak ada ciri-ciri yang menunjukkan dulunya disana ada stasiun Boyolangu. Karena saya kurang yakin, saya tidak mengambil gambar kantor polisinya, takut kalau ketahuan dikira mata-mata..hehe..
Pasar Boyolangu

Berlanjut ke Campurdarat, karena hari sudah mendekati sore jadi perjalanan agak dipercepat. Selamat perjalanan dari Boyolangu ke Campurdarat tidak banyak lagi ditemukan bekas-bekas railbaan. Memasuki daerah kota Campurdarat, fokus saya mencari Puskesmas Campurdarat, karena menurut peta di sebelah puskesmas ada pertigaan ke selatan. Setelah ketemu, langsung saya masuk ke pertigaan itu, saya masuk ke pertigaan tersebut. Berharap menemukan tanda-tanda keberadaan bekas jalur KA, saya malah tidak menemukannya.
Jalan Kampung di Kompleks
Eks Stasiun Campurdarat
Menara Air di kompleks Eks Stasiun Campurdarat
Saya kembali lagi ke jalan raya Campurdarat dan mengarah ke barat. Belum jauh, saya menemukan pertigaan lagi, saya pun belok kesana dan ada pertigaan lagi belok ke barat. Dilihat dari jauh, sepanjang jalan di gang tersebut melengkung khas lengkungan jalan rel. Belum jauh saya berlalu di gang tersebut, saya menemukan sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding. Sebuah menara air kecil berdiri di samping pagar bambu rumah orang. Menara tersebut merupakan bekas menara air eks Stasiun Campurdarat. Saya dibuat takjub, menara air yang berusia lebih dari seabad yang lalu masih berdiri kokoh, nyaris roboh karena dibelakangnya ada pohon mangga yang batangnya terlihat hampir mengenai tandonnya.

Tak berlama-lama disana, saya melanjutkan perjalanan ke Pasar Bandung (bukan Bandung Jawa Barat loh..). Menurut wikimapia.org, bekas railbaan menyimpang ke utara sebelum memasuki pasar Bandung, persimpangannya kira-kira 200m barat SDN 1 Sambitan.
Dari Bandung, belok kiri di
Jalan Raya Tulungagung Trenggalek
Bekas Jembatan Lori Tebu
Tapi disana sudah tak mudah ditemui lagi bekas-bekasnya, karena sudah banyak rumah warga. Sebenarnya ada bisa ditemui bekas railbaan yang kini jadi jalan kampung, letaknya di utara pasar Bandung (belakangnya). Namun saya kehilangan arah pertigaan yang mestinya saya telusuri kesana, daripada saya tersesat sendirian akhirnya saya lanjutkan perjalanan. Sesampai di pasar Bandung, saya belok kanan ke utara di perempatan baratnya pasar Bandung. Dari perempatan tersebut, 200m ke utara bekas railbaan menyimpang ke barat (begitulah yang saya amati di wikimapia.org), namun saya hanya menemukan rumah orang di tempat yang diduga menjadi bekas railbaan, sayangnya saya tidak mengambil gambar rumah tersebut. Di sepanjang perjalanan dari Pasar Bandung ke Durenan, sebenarnya ada tempat yang ingin saya telusuri, apakah ada tanda-tanda bekas jalur mati atau bekas halte, tempatnya di SDN 2 Ngadisuko. Letaknya yang agak jauh dari jalan raya Bandung-Durenan membuat saya mengurungkan niat kesana. Saya lanjutkan perjalanan ke Durenan. Sampai di pertigaan Pasar Durenan, saya belok kanan ke barat, tujuan Trenggalek. Belum jauh dari pertigaan jalan, saya menemukan bekas jembatan lori tebu, kemungkinan besar jembatan tersebut milik PG Modjopanggung. Menghemat waktu karena hari sudah sore, sekitar jam 3an, saya melanjutkan perjalanan. Sampai di daerah Kedunglurah, ada sebuah tanah lapang di pinggir jalan raya. Lapangan tersebut tanahnya bertingkat di sisi pinggir jalan. Saya menduga itu dulu bekas railbaan-nya. Sayang, saya tidak memotretnya.
Bekas Pondasi Jembatan Besar di barat
Pasar Bendo, Trenggalek
Berlanjut ke Trenggalek, saya berkendara setengah cepat, setengah pelan, sedang-sedang saja. Masuk daerah Pasar Bendo, saya mulai memperlambat laju motor. Karena menurut wikimapia.org, tak jauh dari pasar, ke arah barat ada jembatan jalan raya berbentuk jembatan kurung, namun tepat di sebelah selatannya, ada keterangan tentang bekas jembatan kereta api. Dan ternyata benar, disana terdapat 1 set pilar besar bekas jembatan KA tanpa kerangka atas jembatan. Kembali saya merasa sedikit merinding melihat sebuah bukti bersejarah bahwasanya dulu terdapat jalur KA dari Tulungagung ke Trenggalek.
Panorama Pegunungan Trenggalek Utara
dan Sebuah Pondasi Besar eks Jembatan KA
Pondasi Jembatan di tengah Sawah yang Berada
di Tengah Kota Trenggalek
Perjalanan agak saya percepat kembali, melihat langit agak mendung cukup membuat saya agak khawatir, hanya malas saja kalau harus berhujan-hujanan. Akhirnya saya tiba di kota Trenggalek, sebelum masuk kota, posisi railbaan sudah berada di utara jalan raya. Dari peta wikimapia.org, saya belok ke kanan arah ke timur di pertigaan besar pertama. Ternyata pertigaan tersebut jurusan ke terminal Trenggalek. Melaju terus ke timur, sebelum jalan mentog belok kiri, saya berhenti di areal dekat sawah setelah mata saya tertuju ke 2 buah batu besar kembar di tengah sawah utara jalan. Batu itu lah pondasi jembatan KA di kota Trenggalek. Namun saya tidak melanjutkan perjalanan penelusuran di tengah kota Trenggalek, saya langsung menuju ke Kecamatan Tugu, yang berada di jalan raya Trenggalek-Ponorogo. Sebenarnya tidak jauh dari batas kota Trenggalek, ada markas kodim Trenggalek.
SMPN 1 TUGU
Dulu eks Stasiun Tugu
Letaknya di selatan jalan raya. Tepat di timur kodim tersebut, disitulah bekas railbaan menyimpang dari selatan ke utara jalan, serong ke barat laut. Terus ke barat, lumayan jauh jaraknya dari kota Trenggalek. Saya sempat berhenti untuk membuka google maps, untuk memeriksa saya sampai di daerah mana. Khawatir saya salah jalan, karena sebelumnya saya tidak pernah lewat daerah sana sendirian.
Penampakan Belakang SMPN 1 Tugu, Trenggalek
Setelah dipastikan benar jalannya, saya lanjutkan ke barat. Saya kira saya salah jalan, ternyata memang jalannya menikung besar ke utara. Tak berapa lama, saya hampir kelewatan ketika saya melewati sebuah sekolah yang bernama SMPN 1 Tugu. Di wikimapia.org, tepat di sekolah tersebut dulunya merupakan bekas emplasemen Stasiun Tugu (bukan Tugu Jogja). Saya berhenti sebentar, lalu saya menuju sebuah jalan kecil di utara sekolah tersebut. Dari jauh saya mengamati, memang sudah tidak ada tanda-tanda bekas bangunan di areal eks stasiun Tugu.
SMPN 1 Tugu,  dulu Eks Stasiun Tugu,
Ujung Lintas Cabang TA-Trenggalek
Saya rasa sudah cukup penelusuran saya, dalam benak mungkin lain waktu saya akan kembali kesini, untuk melihat lebih jauh areal eks stasiun Tugu. Saya masih penasaran hingga sekarang, karena saya masih belum mendapatkan jawaban lebih banyak atas rasa penasaran saya tentang jalur mati lintas Tulungagung-Trenggalek. Setelah istirahat sejenak, saya lanjutkan perjalanan blusukan saya di bulan puasa ini.

Terima kasih.
Ada pertanyaan, silahkan tinggalkan komentar di bawah ulasan saya ini.

Baca juga update-nya di Jalur Mati: Tracking Tulungagung-Trenggalek Part 2

22 comments:

  1. salut bwt trackingnya. Dikit nambh aja, klo qt jeli d slatan univ tulungagung msh tlihat relbedny mski cm 40mtr, batu kricaknya jg msh ad..dan memang betul klo polsek boyolangu itw dlunya bekas stasiun tanpa ada perubahan brarti, jadi jangan cuma dliat bentuknya aja..jalur tulungagung-trenggalek mulai Kedung lurah mpe Ngetal brada dkiri jalan raya, tlihat space yg lebar d kiri jaln, baru nyebrang jalan raya arah barat laut 100mtr barat ptigaan ngetal..dr situ spoorbed terlihat msh utuh mpe dpn smu 2 trenggalek yg skrg jadi jalan umum..kalo qt ikutin trus ke utara mp sungai ngasinan qt akan nemuin pondasi jembatan yg msh utuh, baik dsisi slatan maupun utara sungai..oia, jembtan plengkung utara pasar bendo dlunya brada d sungai/dam timur pasar bendo..

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. ada kok, tapi memang tak begitu terlihat di dekat unita
      2. Polsek Boyolangu?
      3. Ngetal itu mana ya? hehe
      4. Sungai ngasinan itu apa yang pinggir kota Trenggalek?
      5. Bagaimana bisa jembatan pindah tempat?

      Delete
    2. di pertigaan ngetal serong ke kanan tembus sman 2 jalurnya jadi jalan depan sman 2 tl lurus ke utara tembus bekas pondasi tengah sawah agak ke utara dikit dari pondasi sepur belok kiri lurus ke barat stasiun kemungkinan sekarang pasar basah trenggalek karena kalau di tarik garis lurus saya temui bekas BH kecil di belakan indomaret jl sudirman lurus ke barat jadi jalan kecil. sampai timur kodim
      pindah ke utara jlan

      Delete
    3. Menarik..saya baru nyimak sekarang ini...ternyata ada ya jalur rel mati Tulungagung-Trenggalek. Salam kenal, Saya dengan Nanda dari Jakarta, ibu saya asli trenggalek (pogalan), dari masa kecil saya dulu kalo mudik ke rumah si mbah sering naik kereta Matarmaja, turun tulungagung, nyambung Bus ke trenggalek. Eh ternaya ada sejarahnya ya rel kereta Tuluagung-Trenggalek. Luar biasa. lanjutkan

      Delete
    4. salam kenal juga mas Nanda. :-)

      Delete
    5. Lapangan desa Suruhan Lor kecamatan Bandung konon dulu ada stasiunnya,

      Delete
    6. Anonymos, wow.. betulkah? Menarik sekali ini..

      Delete
  2. Melihat jejak masa lalu, seolah ingin merasakan suasananya...

    ReplyDelete
  3. ayo tracking jalur madiun slahung....q dpt pict dr temen kynya menarik..

    ReplyDelete
  4. Diatas ini yang ngajak treking jalur MN-Slahung, siapa ya?

    ReplyDelete
  5. ne nmr q 081217747784, mz edy..salam kenal

    ReplyDelete
  6. mungkin ada yang terlewatkan dikit om, di ds. campurdarat masih terdapat sisa2 pilar jembatan peninggalan belanda atau warga setempat menyebut bangunan tsb dgn nama CINCIM, lokasi tepatnya berada di timur jembatan ds campurdarat kurang lebih 200 m kearah selatan. sekian, semoga bisa menambah koleksi gambarnya.

    salam dari org campurdarat perantauan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, jembatan Campurdarat yang sebelah mana ya? Spesifiknya dimana? Cz saya tidak melihat ada jembatan besar di Campurdarat....

      Delete
  7. Di tugu..tepatnya bwh jembatan kalipinggir msh ada besi bekas rel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups betul dulu 2012 pernah saya foto, jdi pnsrn kondisiny skrg spt ap

      Delete
    2. tp memang hanya di sisi timur saja yg masih tesisa sptny disisi barat pernh dibongkar mengingat dulu jg ada pembangunan terowongn niyama mgkin akibat pelebaran sungai

      Delete
    3. kalo saya menelusurinya, dari tulungagung sampai bandung (campurdarat) rata2 di sebelah timur-selatan jalan, bahkan sampai daerah bendo pun sama di sebelah selatan jalan, masuk daerah kota trenggalek pindah ke utara-timur jalan utama

      Delete
  8. Dulu th 2012 sya jg prnah blusukan di daerah tugu jg masih ada bekas pondasi jembatanny, 3 pasang seingatq

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul ada, cuma saya juga belum sempat nelisik kesana

      Delete

Ada pertanyaan, keluhan, sanggahan, kritik, atau pesan-pesan lainnya, tinggalkan komentar Anda dibawah ini. Terima kasih